Revitalisasi Badan Diklat : Sebuah Tinjauan Konsep



Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi DKI Jakarta, tengah melakukan revitalisasi dalam rangka menjadikan Badan Diklat sebagai lembaga diklat yang unggul. Untuk itu telah disiapkan berbagai rencana guna mewujudkan kelembagaan, SDM, sarana-prasarana dan program diklat. Ditengah upaya revitalisasi Badan Diklat, kita mungkin bertanya tentang konsep apa yang melandasinya. Tulisan ini bermaksud untuk meninjau konsep yang relevan dengan revitalisasi Badan Diklat.

Konsep Revitalisasi

Tinjauan atas konsep revitalisasi akan sangat terkait dengan konsep reformasi atau transformasi organisasi. Bahkan revitalisasi merupakan bagian dari proses transformasi sebuah organisasi. Pendekatan untuk menyelaraskan sebuah organisasi dengan lingkungannya yang dikemukakan Gouillart dan Kelly (Santoso, 2009) adalah achieve market focus, invent new business, dan changing the rules through information technology.

Sebagai satu tahapan dari perubahan organisasi, Gouliart dan Kelly (Purwanto, 2015) mengartikan revitalisasi organisasi sebagai perubahan dalam suatu organisasi yang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan organisasi. Caranya adalah menyelaraskan organisasi dengan lingkungannya.

Pendekatan Revitalisasi

Pendekatan untuk menyelaraskan sebuah organisasi dengan lingkungannya yang dikemukakan Gouillart dan Kelly (Santoso, 2009) adalah achieve market focus, invent new business, dan changing the rules through information technology.

Achieve market focus adalah sebuah strategi untuk mendekatkan kegiatan-kegiatan diklat sesuai dengan keinginan pengguna (market). Dengan pendekatan ini, program-program diklat harus menjawab kebutuhan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misalnya pelayanan publik melalui PTSP. Pelayanan secara terpadu ini merupakan “pasar” bagi Badan Diklat untuk mengembangkan SDM-nya. Strategi ini membutuhkan training need analysis yang tepat. TNA menjadi penting agar program diklat sesuai kebutuhan pegawai.

Dengan strategi invent new business Badan Diklat bisa menciptakan berbagai kegiatan baru yang berbeda dengan kediklatan. Untuk mengembangkan kegiatan diluar program kediklatan, Badan Diklat bisa menggunakan 3 cara yaitu kemitraan, merger dan akuisisi. Pertama, kemitraan bisa dilakukan Badan Diklat dengan SKPD/lembaga lain yang sejenis misalnya lembaga pendidikan profesional swasta. Kedua, merger merupakan upaya menggabungkan Badan Diklat dengan SKPD/UKPD yang memiliki urusan kediklatan. Sedangkan teknik akuisisi merupakan strategi dimana Badan Diklat mengambil alih sebuah urusan dari SKPD/UKPD lainnya.

Dengan strategi changing the rules through information technology penggunaan teknologi informasi dalam strategi ini merupakan upaya untuk membangun Badan Diklat yang unggul. Teknologi informasi (TI) bisa digunakan untuk mengefisiensikan kinerja sebuah organisasi. Dalam metode pembelajaran, penggunaan TI akan memungkinkan diklat dilaksanakan tanpa sekat kelas, waktu dan jumlah peserta. Badan Diklat bisa mengembangkan model pembelajaran jarak jauh, e-class, e-library dan sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup, penulis mengutip pernyataan Asbhy (Santoso, 2009) bahwa revitalisasi organisasi merupakan lompatan besar yang dilakukan tidak hanya secara bertahap namun juga langsung ke sasaran yang jauh berbeda dari kondisi awal suatu organisasi (Badan Diklat). Sebagai perubahan, revitalisasi yang berupaya “menggiatkan kembali” Badan Diklat merupakan proses terencana dan berjangka panjang. Untuk itu konsep yang matang menjadi sebuah keharusan.

#revitalisasi #badandiklat

Follow Us
  • Facebook Basic Square
Featured Posts
Recent Posts
Archive

© 2020 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia DKI Jakarta