ORASI ILMIAH WIDYAISWARA UTAMA


Orasi Ilmiah pada hakikatnya merupakan wujud akuntabilitas akademis atas profesi yang disandang seorang Widyaiswara. Tujuannya adalah meningkatkan kompetensi secara umum, terutama dalam melakukan kajian ilmiah dalam bentuk penulisan dan lisan yang relevan dengan materi ajar yang diampu, sehingga diharapkan Widyaiswara memiliki wawasan, pengetahuan, keahlian, dan keterampilan sesuai dengan perannya; mengembangkan pola berpikir yang positif, kreatif, inovatif, rasional, dan objektif.

Pelaksanaan Orasi Ilmiah Widyaiswara telah terlaksana pada tanggal 3 Juni 2015 di Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta, lantai 16 Gedung Teknis, Jalan Abdul Muis no 66 Jakarta Pusat. Adapun Hasil studi Evaluasi Pasca Diklat terhadap pelaksanaan Diklat Manajemen Kepengawasan bagi pengawas Sekolah di Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu uraian yang akan saya sampaikan terdiri dari tiga bagian yang pertama latarbelakang mengapa penelitian ini dilakukan, kedua temuan hasil penelitian berikut analisisnya, dan yang ketiga simpulan dan rekomendasi.

Bahwa persoalan kondisi aparatur pemerintah saat ini, salah satunya dipengaruhi oleh masalah rendahnya kualitas Sumber Daya Aparatur itu sendiri, dan tentunya strategi pengembangan SDM Aparatur menjadi salah satu agenda penting untuk memaksimalkan kemampuan aparatur pemerintah dalam melakukan pekerjaannya, meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya serta mendorong untuk semangat melakukan pekerjaannya dengan baik.

Salah satu upaya yang paling efektif untuk meningkatkan kualitas SDM aparatur pemerintah adalah dengan penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi aparatur pemerintah. Dalam Diklat peserta di didik dan dilatih untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang baru agar dapat melaksanakan tugasnya secara professional. Oleh karena itu secara kelembagaan tentunya Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan SDM aparatur tersebut.Secara tegas dalam pasal 24 Peraturan Pemerintah (PP) No. 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta perlu melakukan fungsi pengendalian terhadap keluaran diklat dengan melaksanakan evaluasi pasca diklat.

Mengutip apa yang disampaikan Mangkunegara (2005) bahwa ada tiga tahap sistematik dalam penyusunan program pelatihan yang harus dilalui yaitu, tahap penilaian kebutuhan, tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi. Lebih lanjut Mangkunegara (2005) merinci lebih detail tentang tahapan tersebut dalam siklus diklat sebagai berikut; (1) mengidentifikasi kebutuhan pelatihan / need assesment;(2) menetapkan tujuan dan sasaran pelatihan; (3) menetapkan kriteria keberhasilan dengan alat ukurnya; (4) menetapkan metode pelatihan; (5) mengadakan percobaan (try out) dan revisi; serta (6) mengimplementasikan dan mengevaluasi.

Untuk mengatasi masalah di atas, diperlukan suatu bentuk evaluasi diklat yang lebih komprehensif, yaitu bentuk evaluasi yang dapat memberikan informasi mengenai ada tidaknya perubahan perilaku peserta dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai akibat dari mengikuti kegiatan diklat pengawas sekolah.

Oleh sebab itu langkah strategis dalam menajamkan target program Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta perlu dilakukan penelitian Evaluasi Pasca Diklat di Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta pada program Diklat Manajemen Kepengawasan Bagi Pengawas Sekolah, dengan mendasarkan pada prinsip: Validitas, Objective, Reliable, Relevan, Efesien,dan Diagnostik.

Yang menjadi masalah utama dalam penelitian Evaluasi Pasca Diklat ini adalah “Bagaimana hubungan Efektivitas Diklat Manajemen Pengawasan Sekolah ditinjau dari faktor Motivasi yang dinilai dari Motivasi berprestasi, Pribadi, Afiliasi, dan Kekuasaan, serta dari Faktor hasil yang ditinjau dari Pengetahuan dan Keterampilan dan selanjutnya apakah terdapat hubungan antara Faktor Motivasi dan Faktor Hasil terhadap Efektivitas Diklat ?

Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh hasil penelitian mengenai Evaluasi Efektivitas Program Diklat Manajemen Kepengawasan bagi Pengawas Sekolah di Badan Diklat Provinsi DKI Jakartaperiode Tahun 2012 dengan mengumpulkan dan menganalisis pendapat peserta tentang kualitas penyelenggaraan, tercapainya tujuan diklat, dan terjadinya pengaruh Diklatterhadap cara-pikir, cara-kerja, dan kinerja serta perubahan organisasi dan peningkatan kualitas keluaran dan kinerja instansi tempat bekerja. Selanjutnya hasil evaluasi ini akan dapat memberikan arahan untuk tindak lanjut dalam rangka peningkatan kualitas Diklat selanjutnya.

Model Evaluasi Pasca Diklat yang peneliti gunakan adalah Evaluasi model Kirkpatrick. Dimana menurut Kirkpatrick dalam Sudjana (2006) Evaluasi terhadap efektivitas program Diklat mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1) – Reaction, level 2) – Learning, level 3)– Behavior, level 4) – Result.

Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan antara Motivasi dan Hasil terhadap Evaluasi Efektivitas Program Diklat yang dilaksanakan di Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta berlangsung secara Efektif berpengaruh sebesar 3.64.Variabel laten Hasil merupakan variable strategic yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Evaluasi Efektivitas Program Diklat Manajemen Kepengawasan bagi Pengawas Sekolah di Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta.

Selanjutnya peneliti mengusulkan beberapa rekomendasi sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan sebagai berikut:

Pertama, bagi Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta dari hasil evaluasi Diklat Manajemen Kepengawasan Bagi Pengawas Sekolah, untuk perbaikan selanjutnya, sebaiknya perlu untuk memperhatikan beberapa indikator yang masih belum sesuai seperti struktur pembelajaran, penjadwalan, waktu luang, jalannya diskusi, penyelenggaraan, kegunaan, studi lapangan, dan kondisi diklat.

Kedua, pada sub variabel Motivasi Berprestasi indikator terkecil adalah “mendapatkan sanksi” dan melakukan “evaluasi kinerja”. Pada sub variabel Pribadi indikator terkecil adalah “kebebasan berkreatif, ide, dan pendapat”. Pada sub variabel Afiliasi adalah faktor “atasan, rekan kerja, dan pengajar/widyaiswara”. Pada sub variabel Kekuasaan adalah adanya “jenjang karier”. Pada sub variabel Sasaran individu adalah “mendukung waktu penyelesaian tugas” dan pada sub variabel Sasaran organisasi adalah “bermanfaat meningkatkan kinerja”.

Ketiga, Kepada Penyelenggara Diklat dan widyaiswara/pengajar perlu melaksanakan peningkatan struktur pembelajaran yang lebih sistematis, tepat dan efektif dalam penjadwalan, dalam pengaturan waktu luang serta perencanaan studi lapangan yang tepat, perlu untuk memperhatikan pola pengelolaan pengaruh antara narasumber/widyaiswara dengan peserta pelatihan agar tidak hanya berhenti ketika pelatihan selesai, namun peserta Pasca Diklat dapat difasilitasi untuk dapat berkonsultasi bila peserta menghadapi kesulitan dalam menerapkan hasil pelatihan.

Keempat, Kepada Peserta Diklat Manajemen Kepengawasan, perlu untuk melaksanakan peningkatan diri dalam hal menjalin ikatan sosial dengan orang lain (afiliasi) dengan atasan, rekan kerja, dan pengajar/widyaiswara.

Kelima, Kepada Instansi pengirim peserta Diklat Manajemen Kepengawasan Bagi Pengawas Sekolah, diharapkan dapat mengirimkan calon peserta Diklat sesuai dengan kompetensinya, agar dampak Diklat dapat berfungsi menghasilkan pengawas yang efektif, professional dan yang dapat mendorong performa sekolah untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan hasil pengamatan langsung dari peneliti : bahwa Diklat Manajemen Kepengawasan periode tahun 2013-sekarang, sudah lebih meningkat karena telah dilakukan perbaikan terhadap metode pembelajaran; sudah dilakukan perbaikan rancang bangun pembelajaran, penentuan narasumber/pengajar sudah lebih baik karena berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan; sudah menggunakan praktisi lapangan; pengembangan kurikulum Soft Kompetensi telah dilakukan dengan melibatkan para Psikolog; dan pada tahun 2013 penyelenggara Diklat telah melaksanakan ujian seleksi calon peserta diklat Manajemen Kepengawasan,sebagai salah satu persyaratan mengikuti Diklat, yang semula tidak ada ujian seleksi masuk, untuk meningkatkan kualitas hasil Diklat , kedisiplinan dan menegakkan sanksi, apabila instansi pengirim calon peserta diklat tidak sesuai dengan persyaratan/kualifikasi.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya.Atas kesediaan ibu dan bapak dan hadirim sekalian menghadiri acara Orasi Ilmiah ini, saya mengucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, J. W. & Raynor, J. E. (2000).Personality, Motivation, and Achievement. Washington D.C: Hemisphere

Publishing.

Davenport, Thomas, H., and Laurence Prusak. (1998) Working Knowledge: How Organizations Manage What

They Know. Harvard Business School Press, Boston.

Probst, Gilbert., Raub, Steffen., dan Romhardt, Kai (2003), Managing Knowledge:Building Blocks for Succes,

John Wiley & sons, New York.

Rewansyah,Asmawi.(2010).Reformasi Birokrasi Dalam Kerangka Good Governance, CV.Yusaintanas Prima,

Jakarta.

Robert G. Owens. (1991). Organizational Behavior in Education.Manchester : Ally and Bacon.

Spaulding, Dean T.(2008).Program Evaluation in Practice: Core Concepts and Examples for Discussion and

Analysis. San Fransisco: Jossey-Bass.

Steers, Richard M, (1985):Terj: Magdalena Jamin. Efektivitas Organisasi. Jakarta: Erlangga.

Stufflebeam, Daniel L., dan Anthony J. Shinkfield.(2007).Evaluation Theory,Models,and Applications. San

Francisco: Jossey-Bass.

Werner dan Sedimone. (2011): Evaluasi Program Pelatihan. Cetakan pertama. Jakarta: Rineka Cipta.


Follow Us
  • Facebook Basic Square
Featured Posts
Recent Posts
Archive

© 2020 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia DKI Jakarta